KONSEP
BELAJAR MENURUT ISLAM
Oleh:
Budiman,S.Pd.I,MM.Pd
Pendahuluan
Pada dasarnya sistem pendidikan Islam didasarkan pada
sebuah kesadaran bahwa setiap Muslim wajib menuntut ilmu dan tidak boleh
mengabaikannya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi yang yang
menganjurkan umat manusia untuk menuntut ilmu serta menggambarkan orang-orang
yang berilmu. Sesungguhnya motivasi seorang Muslim untuk mencari ilmu adalah
dorongan ruhiyah, bukan untuk mengejar faktor duniawi semata. Seorang Muslim
yang giat belajar karena terdorong oleh keimanannya, bahwa Allah Swt sangat
cinta dan memuliakan orang-orang yang mencari ilmu dan berilmu di dunia dan di
akhirat.
Betapa
pentingnya pendidikan, karena hanya dengan proses pendidikanlah manusia dapat
mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang mulia, melalui pemberdayaan
potensi dasar dan karunia yang telah diberikan Allah. Apabila semua itu
dilupakan dengan mengabaikan pendidikan, manusia akan kehilangan jatidirinya.
Dengan pendidikan, orang akan memiliki ilmu yang akan di gunakan sebagai
pegangan dalam mencapai kebahagian di dunia dan akhirat. Tentunya ilmu yang
baik dan bermanmanfaat untuk pribadi dan masyarakat. Untuk mendapatkan
pendidikan dan ilmu di lakukan melalui konsep-konsep pembelajaran yang yang baik.
Dalam Islam, pentingnya pendidikan tidak semata-mata
mementingkan individu, melainkan erat kaitannya dengan kehidupan sosial
kemasyarakatan. Konsep belajar/pendidikan dalam Islam berkaitan erat dengan
lingkungan dan kepentingan umat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan
senantiasa dikorelasikan dengan kebutuhan lingkungan, dan lingkungan dijadikan
sebagai sumber belajar. Seorang peserta didik yang diberi kesempatan untuk
belajar yang berwawasan lingkungan akan menumbuhkembangkan potensi manusia sebagai
pemimpin.
Pembahasan
A.
Pengertian Konsep Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
selain memiliki rancangan, konsep juga bermakna ide atau pengertian yang di
abtraksikan dari peristiwa-peristiwa konkrit atau gambaran mental dan obyek
proses ataupun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi memahami
hal-hal lain.
Kata
konsep dari bahasa inggris (concept), yang berarti bagan, rencana, gagasan,
pandangan, cita-cita (yang telah ada dalam fikiran). Sedangkan menurut Ibrahim
Madkur, kata konsep (Inggris: concept) dipadankan dengan istilah makna kulli
(Arab), yang artinya pikiran (gagasan) yang bersifat umum, yang dapat menerima
generalisasi. Sedangkan dengan makna-makna tersebut, maka konsep yang
dimaksudkan dalam pengertian ini, ialah sejumlah gagasan, ide-ide, pemikiran,
pandangan ataupun teori-teori yang dalam konteks ini dimaksudkan ialah ide-ide,
gagasan, pemikiran tentang belajar sepanjang hayat.
Adapun belajar itu sendiri dapat
didefinisikan antara lain:
1. Hilgard
mengatakan : Learning is the proses by which an activity originates as changed
through training procedures (whether in the laboratory or in the natural
environment). Belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu
kegiatan melalui jalan latihan (apakah dalam laboratorium atau dalam Iingkungan
alamiah).
2. Morgan,
belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang
terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
3. James
P. Chaplin, learning (hal belajar, pengetahuan), yang berarti perolehan dari
sembarang perubahan yang relative permanent dalam tingkah laku sebagai hasil praktek atualisai pengalaman. Dari beberapa pengertian belajar tersebut, Sumadi Suryabrata menyimpulkan:
sembarang perubahan yang relative permanent dalam tingkah laku sebagai hasil praktek atualisai pengalaman. Dari beberapa pengertian belajar tersebut, Sumadi Suryabrata menyimpulkan:
a. Bahwa
belajar itu membawa perubahan (dalam anti behavioral changed, aktual maupun
potensial.
b. Bahwa
perubahan itu ada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.
c. Bahwa
perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).
Dikatakan
belajar apabila membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan
itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk
kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri.
Pendeknya mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang. Karena itu
seorang yang belajar ia tidak sama lagi dengan saat sebelumnya, karena ia lebih
sanggup menghadapi kesulitan memecahkan masalah atau menyesuaikan diri dengan
keadaan. Ia tidak hanya bertambah pengetahuannya, akan tetapi dapat pula
menerapkannya secara fungsional dalam situasi hidupnya.n
Jadi
berdasarkan uraian diatas tentang konsep dan belar dapat kitasimpulkan konsep
belajar adalah Gagasan atau rancangan tentang agarbagaimana belajar dapat
berjalan sesuai dengan konsep agar belajar dapat berjalan secara baik.
B. Konsep belajar Sepanjang Hayat
Dalam
dalil belajar islam disebutkan “carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat”
Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep, suatu ide, gagasan pokok islam
dalam konsep ini ialah bahwa belajar itu tidak hanya berlangsung di
lembaga-lembaga pendidikan formal seseorang masih dapat memperoleh pengetahuan
kalau ia mau, setelah ia selesai mengikuti pendidikan di suatu lembaga
pendidikan formal. Ditekankan pula bahwa belajar dalam arti sebenarnya adalah
sesuatu yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Bedasarkan idea
tersebut konsep belajar sepanjang hayat sering pula dikatakan sebagai belajan
berkesinambungan (continuing learning). Dengan terus menerus belajar, seseorang
tidak akan ketinggalan zaman dan dapat memperbaharui pengetahuannya, terutama bagi
mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan pengetahuan yang selalu diperbaharui
ini, mereka tidak akan terasing dari generasi muda, mereka tidak akan menjadi
snile atau pikun secara dini, dan tetap dapat memberikan sumbangannya bagi
kehidupan di lingkungannya
Belajar
sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan
berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan
dengan fasefase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan
pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi
tugas-tugas perkembangannya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak
sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari Belajar sepanjang hayat adalah
suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan
(continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fasefase
perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada
masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas
perkembangannya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa
dan bahkan masa tua. Bertolak dari fase-fase perkembangan seperti dikemukakan
Havinghurst, berimplikasi kepada keharusan untuk belajar secara terus menerus
sepanjang hayat dan memberi kemudahan kepada para perancang pendidikan pada
setiap jenjang pendidikan untuk:
1. Menentukan
arah pendidikan.
2. Menentukan
metode atau model belajar anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas
perkembangannya.
3. Menyiapkan
materi pembelajaran yang tepat.
4. Menyiapkan
pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu
Dari
segi tujuan, belajar sepanjang hayat ini pada mulanya bersifat individual,
yakni untuk memperkaya kehidupan rohani atau intelektual seseorang. Pada taraf
perkembangan selanjutnya belajar sepanjang hayat ini mulai mengembangkan
tujuan-tujan yang bersifat sosial. Mulai disadari bahwa kegiatan belajar
mengajar sepanjang hayat ini tidak hanya menguntungkan perorangan-perorangan
saja, melainkan juga bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan. Apabila
mayoritas anggota suatu masyarakat selalu melibatkan diri dalam kesibukan
belajar setelah mereka memasuki berbagai lingkungan pekerjaan, maka pada
umumnya masyarakat semacam ini akan menjadi lebih dinamis, lebih mudah menerima
gagasan-gagasan pembaruan, dan lebih mudah pula memahami interpendensi dan
interaksi yang ada antara dirinya dengan masyarakat-masyarakat lain. Suatu
masyarakat dengan kegiatan belajar sepanjang hayat yang intensif akan lebih
mudah membangun dirinya pada masyarakat yang tidak mengembangkan kebiasaan
untuk belajar secara terus menerus.
Di masyarakat pada umumnya kelompok yang amat membutuhkan layanan belajar sepanjang hayat adalah remaja yang putus sekolah dan orang dewasa atau orang tua yang ingin meningkatkan kehidupanya. Karena itu di tinjau dan aspek signifakasi dan relevansi konsep belajar sepanjang hayat dalam hubungannya dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang ada dalam masyarakat.
Di masyarakat pada umumnya kelompok yang amat membutuhkan layanan belajar sepanjang hayat adalah remaja yang putus sekolah dan orang dewasa atau orang tua yang ingin meningkatkan kehidupanya. Karena itu di tinjau dan aspek signifakasi dan relevansi konsep belajar sepanjang hayat dalam hubungannya dengan keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang ada dalam masyarakat.
Maka
konsep ini merupakan wahana yang tepat dan tangguh untuk memacu kehidupan
masyarakat, kalau dengan salah satu cara dapat diusahakan :
a.
Bahwa sebagian
besar remaja dan orang dewasa dan orang tua yang aktif dalam kehidupan
kemasyarakatan benar-benar mendapatkan pelayanan belajar yang memadai dan
relevan dengan kebutuhan mereka sebagai individu dan sebagai anggota
masyarakat.
b.
Bahwa
program-program belajar seperti ini benar-benar dikembangkan dan dilaksanakan
c.
Bahwa masyarakat
remaja, orang dewasa serta orang tua yang aktif dalam kehidupan kemasyarakatan
benar-benar terangsang untuk mengikuti program-program belajar sepanjang hayat
ini.
Belajar
sepanjang hayat akan berrnanfaat apabila mendapatkan respon positif dari
individu atau warga masyarakat yang memiliki kemauan dan kegemaran untuk
belajar secara terus menerus, sesuai dengan kebutuhan kebutuhan masing-masing
individu warga belajamya. Dengan demikian konsep belajar sepanjang hayat
memiliki signifikasi di dalam masyarakat.
C.
Konsep Belajar Menurut Islam
Konsep adalah gambaran
mental dari obyek, suatu pemikiran, ide, suatu gagasan yang mempunyai derajat
kekongkritan, proses ataupun yang diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi
untuk memahami hal-hal lain. Sedangkan belajar adalah suatu usaha sadar
yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui
latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor
untuk memperoleh tujuan tertentu.
Konsep pendidikan Islam
yaitu suatu ide atau gagasan untuk menciptakan manusia yang baik dan
bertakwa yang menyembah Allah dalam arti yang sebenarnya, yang membangun
struktur pribadinya sesuai dengan syariah Islam serta melaksanakan
segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan. Dengan
cara menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas
dari disiplin ilmu apapun yang akan dikaji (Fatih Syuhud dalam
Sidogiri.com).
Belajar dalam Islam juga
di wajibkan sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Alaq ayat
1-5:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{
ÇÊÈ
t,n=y{
z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã
ÇËÈ
ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ
ÉOn=s)ø9$$Î/
ÇÍÈ
zO¯=tæ
z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
1. Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah
menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
[1589] Maksudnya:
Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.
1.
Belajar berpusat pada peserta didik
Peserta didik di pandang sebagai insan yang fitrah sebagai makhluk
individu dan makhluk social. Setiap peserta didik memiliki karakter dan sifat
yang berbeda-beda, seperti perbedaan minat (interest), kemampuan (ability),
kesenangan (preference), pengalaman (experience) dan cara belajar (
learning style). Oleh karena itu
kemampuan peserta didik dalam menerima materi pelajaran pun berbeda-beda ada
yang dengan cara membaca, mendengar, melihat ataupun ada yang mudah dengan cara
melakukan (learning by doing). Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran,
organisasi kelas, waktu belajar, cara belajar dan penilaian harus di sesuaikan
dengan kondisi peserta didik.
2.
Belajar dengan melakukan
Melakukan aktifitas adalah bentuk pernyataan diri peserta didik. Pada
hakekatnya peserta didik belajar sambil melakukan aktifitas. Oleh karena itu,
peserta didik perlu di beri kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang
perlu melibatkan dirinya, terutama untuk mencari dan menemukan sendiri.
Kalau di tinjau dari
psikologi anak, maka anak yang normal akan selalu bertindak sesuai dengan
tingkatan perkembangan umur mereka. Menurut pandangan psikologi setiap peserta
didik hanya belajar 10% dari yang di baca, 20 % dari yang di dengar, 30 % dari
yang di lihat, 50% dari yang di lihat dan di dengar, 70 % dari yang di katakan,
dan 90% dari yang di katakan dan di lakukan. Al-Qur’an mengemukakan ada dampak
positif dari kegiatan partisipasi aktif
yang di sebut dengan amal saleh. Firman Allah SWT dalam QS. At-Tin :6)
wÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
Dalam
pendidikan agama Islam misalkan pada pelajaran ibadah shalat, anak-anak harus
di tuntun dan di ajarkan gerakan-gerakan shalat yang benar, di ajak
ketempat-tempat ibadah dan membersihkan tempat shalat.
3. Mengembangkan kecakapan sosial
Kegiatan
pembelajaran tidak hanya mengoptimalkan kemampuan individual peserta didik
secara internal, melainkan juga mengasah kecakapan peserta didik untuk
berkomunikasi dengan pihak lain. Karena itu kegiatan pembelajaran harus di
kondisikan yang memungkinkan peserta didik dapat berinteraksi dengan pihak lain
seperti dengan guru ataupun peserta didik lainnya yang dalam agama Islam di
sebut dengan habluminannas.
Interaksi memungkinkan
terjadinya perbaikan terhadap pemahaman peserta didik melalui diskusi, saling
bertanya dan saling menjelaskan. Interaksi juga dapat di tingkatkan dengan
belajar kelompok, penyampaian gagasan oleh peserta didik dapat mempertajam,
memperdalam, memantapkan atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh
tanggapan dari peserta didik lain atau guru.
4. Mengembangkan fitrah berTuhan
Manusia adalah makhluk yang
berketuhanan bahkan sejak masih dalam kandungan mempunyai komitmen bahwa Allah
adalah Tuhannya. Adanya kebutuhan terhadap di sebabkan manusia selaku makhluk
tuhan di bekali dengan berbagai potensi (fitrah) yang di bawanya sejak lahir.
Salah satu fitrah tersebut adalah kecenderungan terhadap agama Islam.
Usaha
pengembangan fitrah bertuhan di dalam ajaran agama islam sudah di mulai sejak
dalam kandungan dan berakhir setelah terpisahnya roh dengan badan. Pengembangan
fitrah bertuhan ini di laksanakan dalam segala jalur dan jenjang pendidikan
baik formal, non-formal maupun informal.
Oleh
karena itu, konsep pembelajaran menurut islam ialah mengajarkan anak murid akan ke-Esaan Tuhan
dan mengajarkannya pada mereka.
5. Belajar melalui peniruan
Sejak pase-pase awal
kehidupan manusia banyak sekali belajar lewat peniruan terhadap orang-orang di
sekitarnya khususnya lewat kedua orang tuanya. Kecenderungan manusia belajar
lewat peniruan menyebabkan ketauladanan menjadi sangat penting dalam proses
belajar mengajar.
Dalam
hal ini di harapkan para pendidik (guru) dapat memberikan tauladan yang baik
bagi para peserta didik dalam kegiatan pendidikan dan dalam tingkah laku
sehari-hari dengan tujuan agar peserta didik dapat melihat secara langsung mana
perbuatan yang baik sebagaimana nabi Muhamad yang menjadi suri tauladan bagi
umatnya.
Dalam
proses belajar-mengajar guru seharusnya mengajarkan kepada anak agar bisa
berbuat dan berprilaku seperti rasulallah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
QS.Al-Ahzab: 21:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
“Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Dalam kehidupan
sehari-hari dapat kita saksikan tindakan keagamaan yang di lakukan anak-anak
pada dasarnya mereka peroleh dari meniru. Berdo’a, shalat, misalnya mereka
laksanakan dari hasil melihat perbuatan di lingkungannya baik berupa pembiasaan
maupun pelajaran yang intensif. “Para ahli ilmu jiwa menganggap bahwa dalam
segala hal anak merupakan peniru yang ulung”. Sifat meniru ini merupakan metode
yang positif pada pendidikan keagamaan pada anak.
Agar
peserta didik meniru yang positif dan baik dari gurunya, maka guru harus
menjadikan diri sebagai uswatun hasanah dengan menampilkan diri sebagai sumber
norma, budi pekerti yang luhur, wajah yang cerah dan perilaku yang elok.
6. Belajar melalui pembiasaan
Pembiasaan adalah upaya
praktis dalam pembinaan dan pembentukan anak. Hasil dari pembiasaan yang di
lakukan oleh pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didik.
Kebiasaan adalah suatu tingkah laku tertentu
yang sifatnya otomatis, tanpa di rencanakan terlebih dahulu, dan berlaku
dengan begitu saja tanpa di pikirkan lagi.
Dalam
kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena
banyak kita lihat orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata.
Oleh karena itu sebelum melakukan sesuatu kita harus memikirkan terlebih dahulu
apa yang akan kita lakukan.
Pembiasaan
dalam pendidikan agama hendaknya di mulai sedini mungkin. Rasulallah
memerintahkan kepada para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan
shalat tatkala berumur tujuh tahun.
Keterkaitannya
dengan proses belajar mengajar ialah agar para gurunya memerintahkan kepada
para peserta didik agar melakukan pembiasaan yang baik sejak dini.
D.
Ruang Lingkup
Belajar Menurut islam
Adapun ruang lingkup pendidikan secara garis besar dalam
konsep islam dibagi menjadi 3, yaitu:
1. keimanan
Pengertian iman
dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah,
pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan
diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman
kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada
dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu
diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang
yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila
seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak
diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang
tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga
unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat
dipisahkan.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat
mendasar bagi seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman
kepada-Nya, sebagaimana firman Allah yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada
Allah dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan
kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar
kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari
kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa :
136)
2. akhlak
Tujuan dari pembelajarn
selain untuk mengoptimalkan intelektualnya yang terpenting adalah penanaman
akhlak yang baik terhadap para peserta didik. Akhlak adalah
karakter (pembawaan, perangai) dan tabiat. Akhlak sebagaimana dikatakan ahlul
‘ilmi adalah bentuk batin manusia. Karena manusia mempunyai dua bentuk:
1.
Bentuk lahir,
yaitu bentuk ciptaannya yang Allah menjadikan badan pada bentuk itu. Dan bentuk
lahir ini ada yang indah bagus, dan ada yang buruk jelek, dan ada yang di
antara itu.
2.
dan bentuk bathin, yaitu keadaan jiwa yang kokoh (tertancap kuat),
yang muncul darinya [perbuatan-perbuatan yang bagus atau yang jelek, tanpa
butuh kepada pemikiran dan pertimbangan. Bentuk bathin ini juga ada yang
bagus, jika yang muncul darinya adalah] akhlak yang bagus, dan ada yang jelek
jika yang muncul darinya adalah akhlak yang jelek. Inilah yang disebut dengan
akhlak. Jadi akhlak adalah bentuk bathin yang manusia diperangaikan pada bentuk
itu.
3. intelektual
Belajar adalah untuk
mengembangkan intelektulaitas anak dari hal yang belum tahu sampai ia
mengetahuinya. Intelektual artinya kecerdasan yang di miliki oleh peserta didik
dan ini dapat di asah dan di kembangkan melalui pembelajaran dan pendidikan.
E. Ciri-Ciri Belajar
Belajar merupakan tindakan
siswa yang kompleks. Yang hanya dialami oleh siswa itu sendiri.
|
Unsur-unsur
|
Belajar
|
|
1.
pelaku
2.
tujuan
3.
proses
4.
tempat
5.
syarat terjadi
6.
ukuran keberhasilan
7.
faedah
8.
hasil
|
Siswa yang bertindak belajar/pembelajar
Memperoleh hasil belajar/pengalaman hidup
Internal pada diri pembelajar
Disembarang tempat belajar
Motivasi belajar yang kuat
Dapat memecahkan masalah
Mempertinggi martabat pribadi
Hasil beajar sebagai dampak pengajaran
|
F. Tujuan Belajar
Belajar
merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Kompleksitas belajar tersebut dapat
dipandang dari
dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru. Dari segi siswa, belajar dialami
sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dan menghadapi bahan
belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan,
manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi
guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu
hal. Belajar merupakan proses internal dan kompleks. Yang terlibat dalam proses
internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif,
efektif, dan psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah
tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu.
Dalam firman Allah SWT : “Allah
niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan mereka yang berilmu
pengetahuan bertingkat derajat dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu
lakukan”.(Qs. Al-mujadalah : 11).
Artinya: ”Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah
kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
G. Arti Penting Belajar menurut Al-Qur’an
Agama islam sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar. Bahkan
islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman untuk belajar. Perlu
diketahui bahwa setiap apa yang dikerjakan, pasti dibaliknya terkandung hikmah
atau sesuatu yang penting bagi manusia. Beberapa hal penting yang berkaitan
dengan belajar antara lain:
- Bahwa orang
yang belajar akan mendapatkan ilmu yang dapat digunakan untuk memecahkan
segala masalah yang dihadapinya di kehidupan dunia
- Manusia dapat
mengetahui dan memahami apa yang dilakukannya karena Allah sangat membenci
orang yang tidak memiliki pengetahuan akan apa yang dilakukannya karena
setiap apa yang diperbuat akan dimintai pertanggungjawabannya.
- Dengan ilmu
yang dimilikinya, mampu mengangkat derajatnya di mata Allah. Belajar
merupakan akibat adanya interaksi antara stimumulus dan respon. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input
yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa
saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi
atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru
tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting
untuk diperhatikan karena tidak dapat diukur, yang dapat diamati adalah
stimulus dan respon.( Anonymous.2010.www.wordpress.com.Konsep
Pembelajaran Islami).
H. Konsep Strategi Belajar-Mengajar Yang Islami
Strategi
Belajar-Mengajar Menurut Konsep Islami, pada dasarnya sebagai berikut:
a. Proses
belajar mengajar dilandasi dengan kewajiban yang dikaitkan dengan niat ibadah
kepada Allah.
b. Konsep
strategi belajar mengajar memerlukan kreativitas baik metodologi maupun desain
pembelajaran.
c. Mendidik dengan
ketauladanan yang baik
d. Membutuhkan
pembiasaan-pembiasaan untuk mencapai hasil yang maksimal
e. Mengadakan evaluasi
f. Dalam proses
pembelajaran belajar-mengajar harus diawali dan diakhiri dengan do’a.
Dalam
Al-Quran, cara belajar yang membutuhkan usaha manusia, sebagaimana dikemukakan
ole Najati (2005), dapat melalui meniru(imitasi), coba-coba (trial and eror),
atau melalui pemikiran dan membuat konklusi logis.
I. Konsep Belajar Menurut Tokoh-Tokoh Islam
1. Al-Ghazali
Menurut Al-Ghazali
proses belajar adalah usaha orang itu untuk mencari ilmu karena itu belajar itu
sendiri tidak terlepas dari ilmu yang akan dipelajarinya. Berkaitan dengan
ilmu, Al-Ghazali berpendapat ilmu yang dipelajari dapat dari dua segi,
yaitu ilmu sebagai proses dan ilmu sebagai objek.
Pertama, sebagai proses, Al-Ghazali
megklasifikasikan ilmu menjadi tiga. Pertama ilmu hissiyah (ilmu yang diperoleh
melalui pengindraan). Kedua, ilmu Aqliyah (ilmu yang diperoleh melalui kegiatan
berpikir (akal). Ketiga, ilmu Ladunni (ilmu yang langsung diperoleh dari Allah
tanpa berfikir dan proses pengindraan.
Kedua,
sebagai objek, Al-Ghazali membagi ilmu menjadi tiga macam. Pertama,
ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit maupun banyak seperti
sihir. Kedua, ilmu pengetahuan yang terpuji baik sedikit maupun banyak. Dan
Ketiga, ilmu pengetahuan yang dalam kadar tertentu terpuji tetapi bila
mendalaminya tercela seperti ilmu ketuhanan, cabang ilmu filsafat (Wahyuni dan
Baharuddin, 2010).
Menurut
Al-Ghazali ilmu terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu kasbi dan ilmu
ladunni. Ilmu kasbi adalah cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan
secara konsisten dan bertahapmelalui proses pengamatan, penelitian, percobaan
dan penemuan. Ilmu Ladunni adalah ilmu yang diperoleh orang-orang
tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui
proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu. Menurut
Al-Ghazali pendekatan belajar dalam menuntut ilmu dapat dilakukan
dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan ta’lim insani dan ta’lim rabbani
(Wahyuni dan Baharuddin, 2010)
2. Al-Zarnuji
Konsep pendidikan
Al-Zarnuji tertuang dalam karya monumentalnya, kitab ” Ta’lim al-Mutallim
Thuruq al-Ta’allum” konsep pendidikan yang dikemukakan antara lain:
1. pengertian ilmu dan keutamaannya
2. niat belajar
3. memilih guru, ilmu, teman dan ketabahan dalam belajar
4. megormati ilmu dan ulama
5.
ketekunan, kontuinitas, dan
cita-cita luhur
6. permulaan dan insensitas belajar serta tata tertibnya
7. tawakkal kepada Allah SWT
8. Masa belajar
9. kasih sayang dan memberi nasihat
10. mengambil pelajaran
11. wara’ (menjaga diri dari yang syubhat dan haram) pada
masa belajar
12. penyebab hafal dan lupa
13. masalah rezeki dan ilmu umur
Al-Zarnuji membagi ilmu
pengetahuan dalam empat kategori. Pertama, ilmu Fardhu ’ain yaitu ilmu yang
wajib di pelajari oleh setiap muslim individual. Kedua, ilmu fardhu kifayah
yaitu ilmu yang kebutuhannya hanya dalam saat-sata tertentu saja, misalnya ilmu
shalat jenazah. Ketiga, Ilmu haram, yaitu ilmu yang haram untuk dipelajari,
seperti ilmu nujum. Keempat, ilmu jawas yaitu ilmu yang yang hukum
mempelajarinya boleh karena bermanfaat bagi manusia (Wahyuni dan Baharuddin,
2010).
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa
belajar merupakan hal terpenting dalam hidup karena Rasulallahpun menyuruh
umatnya untuk terus menuntut ilmu dan menjadi orang yang berilmu. Belajar dapat
di lakukan melalui pendidikan baik pendidikan formal, non formal maupun
informal.
Dalam belajar , islam
memberikan beberapa konsep yang dapat di gunakan oleh para peserta didik agar
mengajar bukan semata-mata hanya
melaksanakan tugas namun lebih dari itu yaitu dapat membentuk karakter siswa
yang baik. Konsep tersebut di antaranya konsep belajar sepanjang hayat,
berpusat pada peserta didik, belajar dengan melakukan, mengembangkan kecakapan
sosial, mengembangkan fitrah bertuhan, belajar melalui peniruan, dan belajar
melalui pembiasaan.
Melalui konsep tersebut di
harapkan hasil pembelajaran akan sesuai dengan tujuan pendidikan.





